Bertahap Lebih Pasti

Belajar bukan lomba lari jarak pendek. Ia lebih mirip mendaki gunung. Ada jalur yang harus dilalui satu demi satu.

Soft gradient hero representing open space
Whitespace is an affordance—make it intentional.

Aku masih ingat masa ketika pertama kali ingin belajar bahasa pemrograman. Waktu itu aku merasa bersemangat luar biasa. Rasanya semua ingin kupelajari sekaligus—HTML, CSS, JavaScript, Python, PHP, bahkan framework populer seperti Laravel dan Django. Di kepalaku ada target besar: “Aku harus bisa jadi programmer dalam hitungan bulan.”

Awalnya memang terasa menyenangkan. Aku membaca tutorial di sana-sini, mencoba potongan kode, lalu segera pindah ke topik lain. Tapi semakin jauh aku melompat, semakin aku sadar ada lubang besar di bawah langkahku. Konsep dasar yang seharusnya sudah kukuasai ternyata belum benar-benar kukendalikan. Aku bisa menyalin kode, tapi ketika diminta menjelaskan logikanya, aku hanya terdiam.

Tangga yang Terlompati

Ada satu titik ketika aku mencoba membangun aplikasi sederhana. Semua berjalan lancar di awal, sampai aku menemukan error kecil. Kupikir mudah diatasi, tapi error itu justru menyingkap kelemahanku: aku tidak memahami struktur data dengan baik. Saat itulah aku merasa seperti orang yang mencoba menaiki tangga dengan jarak terlalu lebar—aku bisa melompat beberapa langkah, tapi tidak punya pijakan kuat untuk melanjutkan.

Aku akhirnya terpaksa mundur, mempelajari ulang dasar-dasar yang dulu kupikir bisa dilewati. Rasanya berat, bahkan sedikit memalukan. Namun di situlah aku menyadari kebenaran sederhana: belajar itu harus bertahap.

Studi Kasus: Belajar Skill Baru

Hal yang sama juga kualami ketika mencoba mempelajari skill lain, entah itu menulis, desain, atau bahkan public speaking. Ada dorongan untuk cepat menguasai, ingin segera terlihat hebat. Tapi setiap kali aku mencoba memotong proses, hasilnya tidak pernah kokoh.

Seorang temanku pernah mengalami hal serupa. Ia ingin cepat mahir di dunia data science. Dalam beberapa minggu ia langsung belajar machine learning, mencoba membangun model prediksi. Tapi karena fondasi matematikanya lemah, ia kesulitan memahami algoritma dasar. Akhirnya, ia harus kembali belajar aljabar linear dan statistik. Prosesnya lebih panjang, tapi justru itulah yang membuat pemahamannya jauh lebih dalam.

Kenapa Kita Sering Tidak Sabar?

Kadang kita terjebak pada ilusi “kecepatan”. Media sosial penuh dengan cerita sukses kilat: belajar 3 bulan langsung jago, kursus 6 minggu langsung bisa kerja. Cerita-cerita itu memang memberi motivasi, tapi seringkali hanya menunjukkan hasil, bukan proses. Kita lupa bahwa orang-orang yang terlihat cepat itu sebenarnya sudah meniti langkah-langkah kecil yang panjang sebelumnya.

Belajar bukan lomba lari jarak pendek. Ia lebih mirip mendaki gunung. Ada jalur yang harus dilalui satu demi satu. Jika memaksa memotong jalur, kita bisa tersesat atau jatuh lebih jauh.

Bertahap Adalah Jalan Terbaik

Sekarang, setiap kali aku mulai belajar sesuatu yang baru—entah itu bahasa pemrograman lain, framework baru, atau bahkan kebiasaan hidup—aku mencoba mengingat pelajaran itu. Aku tidak lagi tergoda untuk melompat terlalu jauh.

Aku lebih memilih target kecil: hari ini memahami variabel, besok mencoba membuat fungsi, lusa mengutak-atik kondisi dan perulangan. Langkah-langkah kecil itu kadang terasa lambat, tapi nyatanya lebih konsisten membawaku ke atas.

Dan ketika suatu saat aku melihat ke belakang, aku bisa tersenyum. Karena setiap pijakan yang kuambil tidak sia-sia. Setiap tahapan yang kulewati menjadi fondasi yang kokoh untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Belajar bahasa pemrograman, mempelajari skill baru, atau bahkan perjalanan hidup itu sendiri—semuanya punya pola yang sama. Kita bisa memilih untuk melompat, mengambil jalan pintas, tapi cepat atau lambat kita akan kembali ke langkah yang kita lewatkan.

Maka, mungkin kuncinya bukan seberapa cepat kita naik, melainkan seberapa sabar kita meniti satu per satu anak tangga. Karena pada akhirnya, yang berjalan bertahap akan sampai, dan yang terburu-buru justru terhenti di tengah jalan.

Share this story