Kenapa Sering Menunda

Ada banyak alasan mengapa otak kita memilih menunda. Kadang bukan karena malas, melainkan karena takut gagal.

Magenta gradient typographic illustration
Voice comes from contrast, not ornament.

Pernahkah kamu duduk di depan meja kerja, membuka laptop, lalu berkata dalam hati: “Nanti saja, masih ada waktu…”? Beberapa menit berubah jadi jam, dan tanpa terasa tugas belum juga tersentuh. Fenomena ini disebut prokrastinasi—kebiasaan menunda pekerjaan meskipun kita tahu hal itu penting.

Ada banyak alasan mengapa otak kita memilih menunda. Kadang bukan karena malas, melainkan karena takut gagal. Semakin besar tanggung jawab atau ekspektasi, semakin besar pula rasa cemas yang membuat kita menahan diri. Alih-alih bergerak, kita mencari distraksi: scroll media sosial, menonton video singkat, atau mengerjakan hal-hal kecil yang terasa lebih aman.

Di sisi lain, otak manusia memang suka pada hal yang memberi kepuasan instan. Membalas chat teman terasa lebih menyenangkan daripada menulis laporan panjang. Menonton video singkat memberi dopamin cepat, sementara mengerjakan skripsi butuh energi besar dan hasilnya baru terasa jauh di depan.

Namun, menunda hanya memberi ilusi lega sesaat. Ketika batas waktu semakin dekat, rasa cemas berubah jadi stres. Akhirnya kita bekerja dalam tekanan, hasilnya tidak maksimal, dan siklus penundaan pun terulang kembali.

Memahami alasan di balik kebiasaan menunda adalah langkah pertama untuk mengatasinya. Sadarilah bahwa menunda bukan soal malas semata, tapi interaksi antara rasa takut, perfeksionisme, dan pencarian kenyamanan instan. Dengan mengenali pola itu, kita bisa mulai mencari strategi kecil untuk melawan—misalnya membagi tugas besar jadi langkah sederhana, atau memberi diri sendiri jeda singkat setelah menyelesaikan satu bagian.

Menunda itu manusiawi. Tapi jika terus dibiarkan, ia bisa mencuri waktu berharga kita. Maka, mungkin sudah saatnya bertanya: apa yang sebenarnya kita hindari? Dan beranilah memulai, meski hanya dengan satu langkah kecil hari ini.

Share this story