Mengapa Kita Sering Tidak Fokus?
Aku pernah membaca bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk multitasking.
Beberapa hari lalu aku duduk di meja kerja dengan niat penuh. Di depanku ada secangkir kopi, daftar tugas sudah tertulis rapi di buku catatan, dan laptop menyala menunggu perintah. Aku berkata pada diriku sendiri, “Hari ini aku harus menyelesaikan artikel ini.”
Namun lima menit berlalu, kursor di layar tetap berkedip-kedip tanpa huruf yang muncul. Aku hanya menatapnya, lalu tiba-tiba teringat ada pesan WhatsApp yang belum kubalas. Aku meraih ponsel, membuka chat, dan entah bagaimana berakhir menonton video singkat di media sosial. Ketika aku tersadar, satu jam sudah hilang. Artikelnya? Masih kosong.
Aku sempat bertanya dalam hati, “Kenapa sih aku susah sekali fokus?” Padahal niatku jelas, tapi entah kenapa pikiran dan tangan sering memilih hal lain.
Otak yang Sibuk Melompat
Aku pernah membaca bahwa otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk multitasking. Ia hanya bisa berpindah-pindah dengan cepat dari satu hal ke hal lain. Jadi ketika aku mencoba menulis sambil memantau notifikasi, sebenarnya otakku bukan melakukan dua hal sekaligus, tapi melompat dengan cepat. Setiap lompatan itu membuat konsentrasi buyar, dan butuh waktu untuk kembali lagi ke titik awal.
Itulah mengapa ketika aku membuka chat sebentar, “sebentar” itu berubah jadi lama. Fokus yang sudah terkumpul pecah berantakan.
Gangguan Kecil yang Menguasai
Yang membuatku heran, kenapa gangguan kecil seperti suara notifikasi bisa terasa begitu kuat? Jawabannya mungkin sederhana: otak suka hal-hal baru. Notifikasi memberi rasa penasaran dan kepuasan instan. Sedangkan menulis artikel butuh tenaga, butuh kesabaran, dan hasilnya baru terlihat nanti. Maka tidak heran, otak lebih memilih yang cepat dan mudah.
Aku jadi teringat satu sore ketika aku mencoba menulis di kafe. Setiap kali orang lewat, pintu terbuka, atau ada suara gelas beradu, pikiranku langsung teralihkan. Bukannya menyalahkan kafe yang ramai, aku sadar, masalahnya ada pada diriku sendiri: aku terlalu gampang membiarkan hal-hal kecil mencuri perhatian.
Pikiran yang Berlarian
Kadang bukan gadget atau suasana luar yang mengganggu, melainkan kepalaku sendiri. Pernah suatu pagi aku duduk untuk menulis, tapi pikiranku justru berlari ke tagihan listrik, rencana liburan, hingga obrolan kemarin dengan teman. Rasanya seperti ada banyak tab yang terbuka di dalam kepala. Semua minta diperhatikan, semua minta dipikirkan.
Bagaimana mungkin aku bisa fokus menulis kalau pikiranku sendiri tidak pernah diam?
Tanpa Tujuan, Kita Mudah Terseret
Ada kalanya aku membuka laptop dengan niat samar-samar, “Pokoknya harus produktif hari ini.” Tapi tanpa tujuan jelas, aku malah kebingungan harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya aku mencari-cari referensi, membuka banyak tab, dan akhirnya lupa tujuan awal.
Aku belajar, ternyata fokus butuh jangkar: sebuah tujuan kecil yang jelas. Misalnya, bukan “menyelesaikan artikel”, tapi “menulis 300 kata”. Dengan begitu, otak punya arah, bukan sekadar mengembara tanpa peta.
Menemukan Kembali Fokus
Belajar dari banyak kegagalan fokus, aku mulai mencoba cara sederhana. Aku matikan notifikasi ponsel ketika bekerja, menaruhnya jauh dari jangkauan. Aku menggunakan timer metode Pomodoro—25 menit menulis tanpa henti, lalu istirahat sebentar. Dan yang paling penting, aku menuliskan satu tujuan spesifik sebelum mulai.
Tidak selalu berhasil, tentu saja. Ada hari-hari di mana pikiranku tetap liar, ada saat-saat di mana gangguan terlalu kuat. Tapi setidaknya sekarang aku tahu, kehilangan fokus bukan karena aku malas atau tidak disiplin, melainkan karena otak memang mudah tergoda. Fokus ternyata bukan bakat, tapi keterampilan yang bisa dilatih.
Hari itu aku akhirnya berhasil menyelesaikan artikelnya, meskipun butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya. Aku menutup laptop sambil tersenyum, karena aku belajar satu hal penting: tidak fokus itu manusiawi, tetapi bukan berarti tak bisa diatasi.
Mungkin kita tidak bisa menghilangkan semua gangguan, tapi kita bisa belajar memilih: mana yang perlu diperhatikan sekarang, mana yang bisa ditunda nanti. Fokus, pada akhirnya, bukan tentang mengusir semua suara, tapi tentang berani mendengarkan satu suara yang paling penting saat ini.