Rasa Malas Itu Karena Overthinking
bukan malas yang sebenarnya kurasakan—tetapi kepalaku terlalu penuh oleh skenario yang bahkan belum tentu terjadi.
Pagi itu aku duduk di depan meja, daftar tugas sudah kususun rapi sejak malam sebelumnya. Tapi entah kenapa, bukannya langsung bergerak, aku malah menatap layar kosong cukup lama. Dalam pikiranku, ribuan pertanyaan muncul: “Bagaimana kalau nanti gagal? Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai? Apa yang akan orang lain pikirkan?”
Semakin kupikirkan, semakin berat rasanya untuk mulai. Sampai akhirnya aku berkata pada diri sendiri, “Ah, malas sekali…”. Padahal kalau jujur, bukan malas yang sebenarnya kurasakan—tetapi kepalaku terlalu penuh oleh skenario yang bahkan belum tentu terjadi.
Aku menyadari, rasa malas itu sering lahir dari overthinking. Kita terlalu sibuk membayangkan langkah ke sepuluh, padahal belum juga memulai langkah pertama. Kita membebani diri dengan bayangan kesulitan, sehingga energi habis sebelum benar-benar bergerak.
Ketika akhirnya aku mencoba memulai dengan hal kecil—mengetik satu kalimat, menulis satu catatan—rasa berat itu perlahan hilang. Ternyata pekerjaan yang tadi terasa menakutkan tidak seburuk yang kubayangkan. Justru semakin lama aku mengerjakan, semakin ringan rasanya.
Dari situ aku belajar: rasa malas seringkali bukan karena tubuh enggan bergerak, melainkan karena pikiran terlalu jauh berlari. Kita terjebak dalam overthinking, hingga lupa bahwa kekuatan terbesar justru ada di langkah pertama.
Jadi, ketika rasa malas itu datang, mungkin pertanyaan yang harus kita ajukan bukan “Kenapa aku malas?” melainkan “Apa yang terlalu banyak kupikirkan?” Dan setelah itu, cukup lakukan satu hal kecil. Karena satu langkah kecil hari ini lebih berarti daripada seribu bayangan yang tidak pernah terjadi.