Tidak Semua Hal Harus Diceritakan
Hingga pada satu titik, aku mengalami momen yang benar-benar mengubah cara pandangku.
Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya kepadaku, “Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang update cerita di media sosial?” Aku hanya tersenyum. Bukan karena aku tidak punya cerita, justru sebaliknya—terlalu banyak yang terjadi. Namun aku belajar satu hal: tidak semua hal harus diceritakan.
Dulu, aku sering merasa perlu membagikan setiap potongan hidup. Makan siang sederhana, jalan-jalan singkat, bahkan hal-hal sepele yang sebenarnya tidak penting. Rasanya ada dorongan kuat untuk selalu menunjukkan bahwa aku ada, bahwa hidupku juga punya warna. Tapi lama-lama aku sadar, ada kepuasan palsu di sana. Setiap kali aku berbagi, aku menunggu reaksi. Siapa yang like? Siapa yang komen? Apakah orang melihatku lebih baik dari sebelumnya?
Hingga pada satu titik, aku mengalami momen yang benar-benar mengubah cara pandangku. Saat itu aku menghadapi kesulitan pribadi yang cukup berat. Alih-alih bercerita, aku memilih diam. Tidak ada postingan panjang, tidak ada curhat terselubung. Aku hanya menyimpannya, membicarakannya dengan orang-orang yang benar-benar dekat. Dan ternyata… rasanya jauh lebih lega.
Aku menyadari, ada kekuatan dalam menyimpan cerita untuk diri sendiri. Tidak semua orang perlu tahu bagaimana aku berjuang. Tidak semua telinga siap mendengar, dan tidak semua hati tulus memahami. Kadang, cerita yang kita simpan justru memberi kita ruang untuk lebih jujur pada diri sendiri—tanpa perlu validasi dari luar.
Sekarang, aku lebih selektif. Ada hal-hal kecil yang tetap kubagikan, tentu. Sebuah momen indah, pencapaian kecil, atau sekadar candaan ringan. Tapi ada juga cerita-cerita yang kusimpan rapat, hanya untuk diriku, atau kubagikan pada lingkaran kecil yang memang peduli.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita tunjukkan, melainkan tentang seberapa dalam kita bisa memaknainya. Dan aku belajar, menjaga sebagian cerita tetap menjadi rahasia pribadi bukan berarti menyembunyikan diri. Itu hanyalah cara lain untuk menghormati hidup—dan diriku sendiri.
Tidak semua hal harus diceritakan. Ada cerita yang lebih indah bila tetap tinggal di hati, menjadi pengingat pribadi bahwa kita pernah melewatinya, dengan atau tanpa sorot mata orang lain.